Pebisnis itu pelan jalannya, tapi pasti

Majalah Intisari - Edisi 648
2 September 2016

Majalah Intisari - Edisi 648

Betul perkataan orang bijak, kalau segala tindakan pasti ada risikonya. Sama halnya dengan bisnis. Tidak ada bisnis yang langsung lancar mulus. Kalau mau sukses, harus tahu formulanya. Dan formula itu biasanya tidak instan. / Foto : Mohamad Rizky

Intisari
Siapa sangka, awalnya Achmad Zaky (30), pendiri situs jual beli Bukalapak.com, sempat berjualan mi ayam. Saat itu ia masih berkuliah. Muda dan kurang pengalaman, bisnisnya itu akhirnya mati begitu saja. Kegagalan itu tentu membawa kepedihan. Tapi karena berkeinginan menjadi wirausahawan sejati, Zaky malah makin giat mewujudkan impiannya. Tak jauh berbeda dengan Jody Brotosuseno, pendiri Waroeng Group. Dari sebuah gerai kecil dengan lima meja, perjuangannya itu kini membuahkan 82 gerai Waroeng Steak & Shake di seluruh Indonesia. Karyawannya sudah 1.700 orang.

Jody dan Zaky, dua dari banyak cerita sukses pengusaha yang merintis bisnis dari nol. Bukan mendapat durian runtuh yang membuat mereka sukses. Tapi ada usaha, perjuangan, dan keberanian. Kepepet dan passion “Saya menikah muda,” seru Jody tentang situasi yang membuatnya kepepet. Usianya baru 23 tahun ketika itu. Meninggalkan bangku kuliah, hingga cita-cita menjadi arsitek juga kandas. Berbagai jenis bisnis dilakoni Jody. Mulai berjualan parsel, roti bakar, dan susu segar. “Jualan kaus partai juga pernah,” cerita ayah dari tujuh anak ini.

Jody lalu terpikir mengikuti jejak ayahnya yang sukses dengan Obonk Steak. Saat mempersiapkan usahanya, ia teringat penuturan teman-temannya soal steik. Mereka rata-rata menolak makan di Obonk karena harganya tidak sesuai dengan kantong mahasiswa. Berangkat dari pengalaman ditambah berbagai uji coba bisnis tadi, lahirlah Waroeng Steak & Shake. Saat itu Jody juga mendapat pemahaman: “Bisnis bukanlah menjual apa yang hendak dijual, tapi apa yang akan dibeli orang”. Dalam pemahamannya, yang pasti dibeli orang adalah steik murah. Jody banyak bereksperimen untuk membuat hidangan rendah bujet itu. Minimnya pengalaman di bidang kuliner membuatnya harus berkalikali mencoba. Ternyata setelah ditemukan formulanya, hasilnya tidak hanya menjawab kebutuhan Jody. Namun juga keinginan target pasarnya, yakni mahasiswa yang kantongnya pas-pasan itu.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI