Berbagi kasih dengan berbagi asi

Majalah Intisari - Edisi 649
19 Oktober 2016

Majalah Intisari - Edisi 649

Berlimpahnya produksi ASI, membuat para ibu ini rela membaginya dengan anak-anak yang membutuhkan. Meski tidak melihat latar belakang penerimanya, namun tetap ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Kesadaran dalam memberikan ASI eksklusif di negeri kita ternyata masih kurang.

Intisari
Ada rutinitas baru yang dijalani Erma Rosa Ergandia (31), dua bulan setelah melahirkan anak pertamanya, yakni menyusui si kecil dengan ASI. Namun setelah ia kembali bekerja, di sela-sela kesibukan sebagai peneliti di salah satu bank swasta di Jakarta, rutinitasnya jadi bertambah lagi yakni harus memompa ASI. Biasanya, dalam sehari Erma bisa empat hingga lima kali memompa ASInya. Jadwalnya, pagi hari setiba di kantor, sesudah makan siang, sore hari, dan setelah jam kerja.

Beruntung, di tempat kerjanya ada ruang laktasi sehingga tak ada hambatan untuk melakukannya. Aktivitas memerah ASI ini terkadang juga dilakukannya di luar kan-tor. Misalnya, ketika pergi makan siang di mal atau saat perjalanan pulang kerja. Erma selalu menyempatkan diri untuk mencari ruang laktasi. “Kalau payudara ‘penuh’ bikin enggak nyaman, makanya kadang suka menyempatkan diri untuk mompa. Selain itu, juga agar produksi ASI lebih banyak,” kata ibu dari dua anak itu.

Karena berlebih Kita mafh um, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. Pemberian ASI ekslusif selama enam bulan sejak awal kelahiran dapat membuat bayi lebih sehat, cerdas, sekaligus menekan angka kematian pada bayi. Pemberian ASI eksklusif pun tak hanya memberi manfaat bagi bayi di masa pertumbuhan dan perkembangan, namun juga bagi sang ibu. Sejumlah penelitian menyebut, anak yang mendapat ASI eksklusif memiliki kemampuan kognitif dan motorik lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak menerima ASI. Sementara bagi sang ibu, berdasarkan penelitian dalam jurnal Obstetrics and Gynaecology , wanita yang menyusui bayi mereka dapat menurunkan risiko serangan jantung, penyakit jantung, atau stroke. Hal ini pula yang diyakini Erma dan membuatnya keukeuh memberikan ASI perah, di tengah kesibukan sehari-hari. Kebetulan, meski statusnya wanita bekerja, produksi ASInya cukup berlimpah. Sehari ia bisa menghasilkan 1- 1,5 liter ASI atau sekitar 10-15 botol ukuran 100 ml.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI