Titip belanjaan yang jadi bisnis mapan

Majalah Intisari - Edisi 660
12 September 2017

Majalah Intisari - Edisi 660

Maraknya bisnis jasa titip beli (jastip) seakan menjawab kebutuhan orang-orang yang tidak sempat belanja ke pasar atau ke mal. / Foto : Bhisma Adinaya

Intisari
Sabtu dan Minggu, yang biasa disebut akhir pekan, boleh disebut sebagai harinya pusat-pusat perbelanjaan. Sebab pada umumnya di waktu-waktu tersebut, mal ramai pengunjung, cari parkir susah, dan tempattempat makan penuh. Meski terjadi manusia begitu banyak, ternyata tidak semua orang sempat berbelanja. Fakta itu terbukti setelah maraknya akun-akun jastip di media sosial.

Ketika akun-akun itu memposting barang-barang “menarik”, orang-orang tetap antusias membelinya. Padahal, barang yang ditawarkan, bisa mudah kita temui di toko. Pembelinya pun, belum tentu tinggal jauh di luar kota. Mungkin malah rumahnya berada di dekat pusat perbelanjaan. Tapi karena berbagai alasan, mereka tidak bisa berbelanja sendiri. Atau malah bingung sendiri, kalau sudah berada di mal.

Begitu salah satu potret lucu dari maraknya bisnis jastip belakangan ini. Kian hari kian marak, karena bisnis ini boleh terbilang sederhana. Semua orang bisa menjalankan, dengan modal yang tidak besar (hanya ponsel dan akses internet) serta risikonya minim. Wajar jika banyak orang yang mencoba-coba peruntungannya di jastip. Namun meski kesannya sederhana, hasilnya ternyata bisa luar biasa.

Contohnya, saat digelar bazaar buku-buku impor harga diskon, di kawasan BSD, Tangerang Selatan, April 2017, barisan para pebisnis jastip ini benar-benar panen. Kala itu para pebisnis jastip besar di Jakarta, bisa berbelanja sampai ratusan buku dalam sehari. Total nilai belanjanya saja bisa mencapai puluhan juta rupiah. Padahal, mereka bisa berkali-kali datang selama pameran berlangsung.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI