Daun katuk, legenda yang melintasi zaman

Majalah Intisari - Edisi 661
19 Oktober 2017

Majalah Intisari - Edisi 661

Khasiat daun katuk yang begitu ampuh tetap awet meski zaman silih berganti.

Intisari
Ketika ASI tak kunjung keluar setelah melewati hari ketiga, biasanya kepanikan hebat melanda para ibu. Eyang dipesan untuk mampir ke pasar membeli daun katuk. Suami disuruh pergi ke apotek untuk membeli tablet daun katuk. Semuanya dimintai bantuan untuk membawakan daun katuk yang dipercaya dari zaman ke zaman melancarkan produksi ASI.

Memang sudah sejak zaman dahulu, di negeri kita ada kebiasaan ibu-ibu yang baru melahirkan mengasup daun katuk atau Sauropus androgynus, Merr. Banyak dari mereka merasakan hasilnya. Mengasup daun katuk yang berwarna hijau tua ini benarbenar membuat ASI melimpah. Kebiasaan ini tak hanya dilakukan di sini tapi juga di Malaysia, Thailand, dan India. Kaya zat gizi. Melihat keajaiban daun katuk, sejumlah peneliti tergelitik untuk melihat ada apa sebenarnya di dalam daun katuk.

Ternyata luar biasa. Daun katuk mengandung berbagai zat gizi: ada protein, lemak, karbohidrat, dan serat. Kandungan proteinnya tidak tanggung-tanggung! Jauh lebih besar dibandingkan dengan sayuran hijau lainnya. Selain kandungan gizi yang disebutkan tadi, daun katuk juga mengandung senyawa minyak esensial, saponin, flavonoid, tanin, triterpenoid, sejumlah asam amino.

Masih ditambah lagi, vitamin A, B, C, dan mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi. Bahkan kandungan zat besinya cukup tinggi. Ini sangat bermanfaat untuk mencegah anemia. Lalu, juga mengandung tujuh senyawa aktif lainnya yang dapat merangsang penyerapan zat-zat gizi di saluran cerna, meningkatkan protein dan karbohidrat di tingkat sel yang dapat berdampak positif terhadap produksi ASI yang berkualitas.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI