Menuju fusi nuklir, nuklir tanpa limbah

Majalah Intisari - Edisi 663
11 Januari 2018

Majalah Intisari - Edisi 663

Bersama tenaga angin, tenaga surya di AS baru menyuplai tujuh persen kebutuhan listrik. / Foto : chevanon _ Freepik

Intisari
Energi fosil, cepat atau lambat akan habis. Fusi nuklir pun memikat perhatian ilmuwan sebagai energi baru terbarukan yang ideal untuk masa depan. "Kuasai minyak, maka engkau akan menguasai bangsa-bangsa. Kuasai pangan, maka engkau akan menguasai rakyat.” Begitulah kirakira mantra yang diucapkan Henry Kissinger, penasihat keamanan nasional di era Presiden Amerika Serikat Richard Nixon.

Pangan adalah bahan bakar tubuh manusia. Tanpa pangan, manusia tak akan mampu beraktivitas dan akhirnya mati. Demikian pula minyak, yang dalam konteks ekonomi modern disebut energi. Tanpa energi, kegiatan ekonomi akan lumpuh dan akhirnya juga akan mati.

Pangan adalah bahan bakar tubuh manusia. Tanpa pangan, manusia tak akan mampu beraktivitas dan akhirnya mati. Demikian pula minyak, yang dalam konteks ekonomi modern disebut energi. Tanpa energi, kegiatan ekonomi akan lumpuh dan akhirnya juga akan mati.

Masa depan seiring peningkatan permintaan karena jumlah populasi bertambah. Sementara pangan bersandar pada papan yang semakin terbatas. Begitu juga dengan energi yang selama ini mengandalkan energi tak terbarukan.

Pada tahun 2035, penduduk Indonesia diproyeksikan 305,6 juta jiwa. Meningkat 28 persen dibandingkan tahun ini. Sementara penduduk dunia diperkirakan 8,8 miliar, naik 15,8 persen dibandingkan tahun ini. Permintaan pangan dan energi tentu akan semakin meningkat.

Pada konteks inilah, persoalan pangan dan energi semakin mengkhawatirkan sebab pasokannya pada hari ini justru menunjukkan tren sebaliknya. Jika pasokan pangan belum begitu mengkhawatirkan sebab masing-masing negara bisa mengusahakan pangannya, tidak begitu dengan energi.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI