Memberi dalam kekurangan, mungkinkah?

Majalah Intisari - Edisi 665
9 Maret 2018

Majalah Intisari - Edisi 665

Itulah pelajaran kemurahan hati.

Intisari
Pernah, dalam sebuah kunjungan studi ke wilayah kumuh di pinggiran kota Medan, saya dibuat tertegun. Ketika kami mendatangi rumah seorang nenek tua yang hanya tinggal bersama cucunya. Ia menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk. Rumahnya sudah reyot, catnya sudah memudar, terlihat beberapa lubang di dinding yang sudah ditutupi dengan kardus seadanya.

Atapnya pun begitu, cahaya matahari masuk dari lubang-lubang atap seng yang tampak berkarat. Isi rumahnya sangat sederhana. Pada dinding triplek ditempel poster baca tulis dan berhitung. Nenek itu kemudian menawarkan kami minum. Ia mengeluarkan cangkir-cangkir plastiknya. Bahkan bertanya apakah kami mau makan atau tidak. Katanya ia baru saja selesai memasak nasi.

Sebetulnya, terlihat dari kondisinya, ia dan cucunya tampak kesulitan untuk makan. Dan mungkin saja persediaan makanan hanya sedikit. Namun dengan penuh keramahan dan kehangatan, ia menawarkannya pada saya, orang asing yang baru pertama kali ditemuinya. Saya terus mengingat peristiwa itu sampai sekarang.

Karena bagi saya, itulah pelajaran kemurahan hati. Saat itu muncul pertanyaan dalam diri: “Bagaimana mungkin seseorang yang kekurangan materi dapat dengan senang hati untuk memberi dan berbagi?” Tindakan nenek tua ini bukanlah sebuah anomali. Kita pun sebetulnya dapat melihat di sekitar kita, bahwa sering kali orang yang berkekurangan yang justru rela hati untuk memberi.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI