Komunikasi tanpa batas dari HT ke ponsel

Majalah Intisari - Edisi 666
9 Maret 2018

Majalah Intisari - Edisi 666

Bisa saja menggunakan ponsel, tapi bukan sembarang ponsel. / Foto : Bundit Jonwises_123RF

Intisari
Sistem yang dikembangkan oleh Rudy Sumardi ini mampu “mengawinkan” handy talkie (HT) dengan telepon seluler untuk menghasilkan sebuah komunikasi yang tanpa batas dan tak mengenal blank spot. Bisa berkomunikasi ala radio komunikasi, bisa pula ngobrol berdua.

Salah satu kesuksesan Ekspedisi 28 Gunung yang diselenggarakan oleh pabrik peralatan aktivitas luar ruang, Eiger, adalah sistem komunikasi yang mampu menyatukan kegiatan mendaki 28 gunung di hampir seluruh pulau besar di Indonesia.

Puncak kegiatan itu berlangsung pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 dengan mengumandangkan naskah Sumpah Pemuda dari puncak 28 gunung itu kepusat pengendalian operasi di kantor pusat Eiger, Bandung, Jawa Barat. Ke-28 gunung itu tersebar di Pulau Sumatra, P. Jawa, P.

Kalimantan, Kepulauan Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara), Kepulauan Maluku, serta Papua. Mengandalkan jaringan seluler tentu mustahil mengingat beberapa gunung itu jauh dari keramaian. Bisa saja menggunakan ponsel, tapi bukan sembarang ponsel. Harus ponsel satelit. Tapi tentu butuh biaya yang banyak. Harga satu ponsel satelit saja bisa sampai puluhan juta rupiah.

Habis acara kemungkinan alat itu tidak dipakai lagi. Selain itu, operator telepon satelit masih terbatas. Solusi yang agak mungkin adalah menggunakan handy talkie (HT). Komunikasi dua arah yang tahan banting ini memang tak seprivat ponsel karena pembicaraan kita bisa dikuping mereka yang tahu frekuensi kita.

Meski jarak jangkau terbatas, namun dengan memanfaatkan pemancar ulang (repeater) jangkauan HT ini bisa luas. Tapi tetap saja sebuah proyek besar jika menyatukan 28 gunung dalam satu kendali komunikasi menggunakan HT.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI