Pulau timah di tepi zaman

Majalah Intisari - Edisi 667
27 April 2018

Majalah Intisari - Edisi 667

Basri (54) beristirahat di dalam tenda yang dibuat bagi para penambang untuk berteduh dan beristirahat penambang saat jeda bekerja di kawasan hutan produksi di Belinyu, Bangka.

Intisari
Pulau Bangka Belitung adalah wilayah persebaran timah di Indonesia yang termasuk jalur The South East Tin Belt (jalur timah Asia Tenggara). Kementerian Perdagangan RI mencatat, produksi timah Indonesia menyumbang 26% dari total pasokan di dunia. Hanya saja, masifnya penambangan sejak ratusan tahun silam membuat cadangan timah domestik bakal habis sekitar 10-15 tahun mendatang.

Meski ada pembatasan aktivitas tambang, namun eksploitasi terus berlangsung, baik di hutan maupun di laut. Itulah yang membuat aparat pemerintah merazia penggunaan ekskavator di area tambang inkonvensional. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bangka Belitung pada 2017 memaparkan, provinsi ini mengalami krisis lahan sebesar 340.000 hektare dalam 10 tahun terakhir.

Kerusakan ekosistem laut di provinsi itu mencapai 60%, terutama di sektor ekosistem terumbu karang dan produksi ikan. Karena itulah mereka mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan kebijakan moratorium pertambangan timah.

Umi, 21 tahun, warga yang bermukim di dekat lokasi pertambangan timah di Permis, Bangka, mengatakan genangan air di lubang-lubang sisa timbang timah darat di wilayahnya mengakibatkan munculnya habitat nyamuk. “Kami kalau tidur harus pakai kelambu supaya tidak digigit nyamuk. Kemarin ada yang kena malaria karena nyamuk. Warga berharap pemerintah menutup lubang-lubang sisa tambang itu” jelas dia.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI