Menepis candu dari gawaimu

Majalah Intisari - Edisi 668
24 Mei 2018

Majalah Intisari - Edisi 668

Jika kita cenderung memberi keleluasaan kepada anak untuk memegang gawai, rupanya tidak begitu dengan para pekerja di Silicon Valley—kawasan teknologi informasi dunia. / Foto : Uladzik Kryhin_123RF

Intisari
Jika kita cenderung memberi keleluasaan kepada anak untuk memegang gawai, rupanya tidak begitu dengan para pekerja di Silicon Valley—kawasan teknologi informasi dunia. Mereka malah membatasi anak-anak mereka terhadap pemakaian teknologi karena melihat potensi dampak negatif yang mengintai. Rasanya hampir sulit dipercaya.

Para pekerja di Silicon Valley yang menjadi markasnya perusahaan-perusahaan tekno-logi dunia justru malah membatasi anak-anak mereka untuk akrab de-ngan teknologi. Akan tetapi, memang begitulah keadaan sesungguhnya. Alih-alih memanjakan anak dengan ponsel pintar rilisan terbaru dari kantornya atau tablet teranyar besutan perusahaan tetangga, mereka malah amat membatasi waktu penggunaan ponsel, televisi, hingga komputer di rumah.

Padahal, Silicon Valley dikenal sebagai kiblat teknologi dunia. Nama julukan untuk area selatan kota San Fransisco Bay Area, California, Amerika Serikat ini ibarat sarang penetas bagi produkproduk teknologi terkini. Google, Facebook, Twitter, Netflix, Apple, Intel, Adobe, hingga Hewlett- Packard (HP) adalah merek-merek ternama yang besar di sana.

Sensus 2013 di AS mencatat, setiap 1.000 pekerja swasta di Silicon Valley, terdapat 286 pekerja teknologi informasi. Kualifikasi mereka juga bukan main-main. Rata-rata gaji mereka merupakan yang tertinggi yaitu AS$144,8 ribu per tahun, jauh dibandingkan dengan area metropolitan AS lainnya yang hanya AS$50 ribu per tahun.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI