Teknologi hidrotermal, solusi sampah perkotaan

Majalah Intisari - Edisi 669
10 Juli 2018

Majalah Intisari - Edisi 669

Sampah di perkotaan menjadi persoalan yang pelik karena kesadaran warga untuk mendaur ulang sampah sebelum keluar dari rumah tangganya masih rendah. Teknologi ini menawarkan solusi yang mrantasi dan menghasilkan produk sampingan yang bernilai tinggi.

Intisari
Sampah perkotaan semakin lama menjadi persoalan yang pelik. Di Jakarta pernah diberitakan soal sampah yang tak bisa dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Bantargebang karena persoalan administrasi antara Pemda Jakarta dan Pemda Bekasi. Sementara di Kabupaten Bandung, sampah pernah menimbulkan korban akibat gunungan sampah di TPA Leuwigajah runtuh.

Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah yang mengakibatkan tewasnya 156 warga di sekitar TPA pada 1 Februari 2005, menjadi catatan sejarah buruk bagi masyarakat Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Hujan deras yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut menyebabkan timbunan sampah sekitar 2,7 juta meter kubik longsor menutupi wilayah permukiman penduduk.

Untuk mengenang tragedi sampah itu, sejak 2015, tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Jika paradigma pengelolaan sampah masih dengan konsep kumpulangkut- buang, maka persoalan sampah tidak akan selesai-selesai. Konsep ini hanya memindahkan masalah dan memendamnya yang akan menjadi bom waktu dengan keterbatasan lahan yang digunakan untuk TPA.

Belakangan muncul gerakan untuk memilah sampah mulai dari rumah tangga sebelum dibuang. Sayangnya, gerakan ini tak banyak berarti di Jakarta. Meski sudah banyak bank sampah (374 dari data Peta Bank Sampah di DKI), namun jumlah sampah per hari tetap saja naik. Jika pada 2011 produksi sampah DKI Jakarta 5.597 ton per hari, pada 2016 angkanya melonjak menjadi 6.500 – 7.000 ton per hari.

Akan tetapi bukannya tak bisa mengendalikan sampah. Surabaya bisa dijadikan contoh. Kuncinya tetap pemilahan dari sumbernya. Dikutip dari situs Kementerian Lingkungan Hidup, Walikota Surabaya Tri Rismaharani mengatakan bahwa akibat pemilahan sampah dari sumbernya itu, sampah yang masuk TPA hanya 30%. Tentu ini bisa menghemat anggaran pengangkutan dan pengelolaan sampah.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI