Mempertahankan lebih sulit dari merebut

Majalah Intisari - Edisi 673
25 September 2018

Majalah Intisari - Edisi 673

Seperti kemenangan, mempertahankan yang lebih sulit dari mendapatkannya. / Foto : ximagination_123RF

Intisari
Ajang olahraga besar di Tanah Air sudah usai. Ingar bingar mengejar prestasi mau tidak mau harus selesai seiring waktu. Untuk Indonesia kehebohan itu masih ditambah dengan kom pensasi berupa bonus yang diberikan oleh pemerintah untuk mereka yang mendapatkan medali dan mereka yang ikut serta di ajang besar tersebut.

Dalam olahraga dikenal suatu ungkapan bahwa mempertahankan jauh lebih sulit daripada merebut. Tidak heran mereka yang telah mencapai gelar juara, harus melakukan kerja keras yang bahkan lebih tinggi daripada sebelumnya. Dalam keuangan hal ini berlaku sama. Mendapatkan uang ternyata bisa dicapai semua olahragawan kita.

Tapi mempertahankannya agar menjadi aset dan di masa depan bisa menjadi jaminan dirinya untuk bisa sekadar hidup, ternyata tidak gampang. Sudah banyak contoh baik dalam negeri maupun luar negeri menggambar kan bagaimana kehidupan olahragawan yang dipuja saat di pun cak karier dan hancur tidak dipan dang saat dirinya sudah tidak lagi juara.

Hadiah yang diterima untuk ajang Asian Games tahun ini ter bilang besar. Media melansir bahkan bonus yang diperoleh para atlet kita masuk lima besar tertinggi di antara negara lain. Ber kah? Pasti. Namun, di sinilah sebenarnya ujian kita. Bisakah bonus tadi menjadi bonus produktif? Mengingat usia keemasan atlet terbilang pendek.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Bukan lagi rahasia umum bahwa memiliki uang yang banyak sama rumitnya dengan tidak memiliki uang. Ketika tidak memiliki uang maka banyak yang menghindari karena takut akan dipinjam. Saat memiliki uang, semua mendekati dan merasa berhak atas bagian uang tadi.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI