Sragen, Jawa Tengah mencicipi sajian khas sederhana yang unik & lezat

Tabloid Saji - Edisi 355
15 Juni 2016

Tabloid Saji - Edisi 355

Kabupaten Sragen merupakan kota di Provinsi Jawa Tengah yang paling timur, berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Kendati menjadi gerbang perbatasan antarprovinsi, namun kedekatan budaya dan tradisinya lekat dengan Solo. Termasuk warisan kulinernya, seperti sambal tumpang, aneka jenang manis, lauk masak terik, hingga bothok patin.

Saji
Bubur Terik & Sambal Tumpang Mbak Wiji, Berada di area Pasar Krapyak, lapak milik Wiji (54) telah dikenal sebagai salah satu tujuan para pencinta kuliner sejak lama. Mulai berjualan di awal 1990-an, semula Wiji hanya berjualan sambal tumpang, sayur terik, tempe goreng, dan sayur pedas. Kini, di lapaknya yang berukuran tak lebih dari 3 meter persegi itu telah dipenuhi aneka masakan khas tradisional yang menggugah selera. Semuanya ditata dalam panci-panci yang diletakkan berjajar di atas meja besar.

Namun pengunjung tetap mencari sambal tumpang dan bubur terik. Sambal tumpang Wiji berisi tahu yang didominasi aroma jeruk purut. Aroma jeruknya berasal dari buah jeruk purut yang dikuliti dan daun jeruk. “Kulit jeruk purut diiris tipis dan ikut dimasukkan ke dalam kuah,” ujar Wiji. Kuahnya dari santan, diolah bersama tempe busuk, dengan bumbu bawang merah, bawang putih, kencur, ebi, daun jeruk, daun salam, dan laos. Tahu dimasukkan ketika masakan sudah matang, sehingga teksturnya tak terlalu lunak. Sambal tumpang disajikan bersama gudangan atau sayuran rebus dengan bumbu kelapa parut.

Wiji yang mulai berjualan pukul 06.00 hingga 08.00 pagi ini juga menyediakan bubur terik, yang jadi menu sarapan favorit. Bubur nasi diberi kuah terik, terbuat dari santan yang diberi kunyit, mirip kari. Isinya tahu putih, tahu goreng, telur rebus, dan bihun. Seporsi bubur terik atau nasi sambal tumpang Rp 2.500. Untuk melengkapinya, disantap bersama tempe goreng, sambal goreng tholo, dan sayur daun ketela. Ayam Terik & Jenang Mbah Rajak Di dalam Pasar Sragen, kios Mbah Rajak telah lama jadi tempat makan favorit para pencinta kuliner. Kios seluas 10 meter persegi itu selalu ramai pengunjung. Dirintis sejak 1970-an, kios ini dikelola oleh Rajak (65), generasi kedua pemilik usaha.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI