Roti kukus yang jadi oleh-oleh

Tabloid Saji - Edisi 362
2 Agustus 2016

Tabloid Saji - Edisi 362

Berkunjung ke Parepare, kurang lengkap rasanya jika pulang tak membawa mantao. Meski bukan kuliner asli Parepare, toh, roti kukus ini sudah diresmikan oleh Walikota Makassar terdahulu sebagai oleh-oleh khas Makassar. Apa istimewanya? / Foto : Visual Michael W .

Saji
Betul sekali bahwa mantao atau orang sana menyebutnya roti mantao bukan khas kota ini. Kalau pasangan Heryadi Thamrin (70) dan Nurhayati (60), membuatnya lantas mendagangkannya pun karena mereka mengenal kue ini ketika dioleh-olehkan kerabat dari Jakarta, 9 tahun lalu. “Karena rasanya enak, maka kami belajar membuat sendiri. Siapa tahu bisa dijual di toko kami,” kata Nurhayati, pemilik toko Sinar Terang. Karena kue ini tak lazim di sana pada saat itu, pasangan ini ragu menjualnya di toko mereka yang memang sudah berjualan kue dan kebutuhan pokok.

“Hanya 1 bungkus yang kami jual awalnya.” Namun ternyata banyak yang menanyakan keberadaan mantao buatannya. Sehingga pasangan ini langsung menyeriusi bisnis ini. Sekarang tokonya selalu dipenuhi orang mencari mantao. Selain enak, kue ini relatif tidak mahal. Sebungkus mantao isi 7 harganya Rp 35 ribu. Sedangkan yang isi 9, harganya Rp 50 ribu. Padahal, kata Nurhayati, ia dan sang suami tak pernah melakukan promosi besarbesaran melalui media cetak, apalagi lewat media sosial.

Promosi mulut ke mulutlah yang jadi pendukung utama kesuksesan mantao yang diberi nama Mantao Pare ini terutama setelah Sjamsu Alam, Walikota Parepare pada saat itu, menyatakan Mantao Pare produksi Toko Sinar Terang sebagai oleh-oleh khas kota Parepare. Tentu saja pasangan Heryadi dan Nurhayati merasa tersanjung dengan pengakuan dari sang walikota terhadap Mantao Pare produksinya.

Mereka berkisah, tujuan awalnya membuat roti mantao sebenarnya memang ingin ikut menciptakan jenis kuliner yang bisa menjadi ciri khas bagi kota kelahirannya. Sudah Ada Rasa, Apa keistimewaan mantao ini? Nurhayati dan suami berhasil menciptakan mantao yang teksturnya pas. Tak seringan roti, tapi juga tak sepadat bakpao. Kelembutan dan keempukan yang pas ini tetap bertahan walaupun mantao dikukus atau digoreng. Uniknya, jika digoreng, mantao tak akan menyerap minyak. Bahkan berubah menjadi renyah.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI