Tanjung morawa, deli serdang (Sumut) uniknya rasa burung goreng & ayam petir sup

Tabloid Saji - Edisi 366
26 September 2016

Tabloid Saji - Edisi 366

Tanjung Morawa, Kecamatan Deli Serdang, Sumatera Utara, hanya berjarak setengah jam dari jantung kota Medan. Namun di wilayah ini terdapat budaya kuliner yang sangat unik. Tak heran bila banyak warga Medan berkunjung ke sini demi menikmati aneka hidangan bercitarasa tak biasa. Agar tak penasaran, SAJI tampilkan empat rumah makan yang layak dikunjungi saat bertandang ke Tanjung Morawa.

Saji
RM Burung Goreng, Tak mudah menemukan rumah makan yang khusus menyajikan menu burung goreng. Namun di rumah makan ini, hampir semua jenis burung layak konsumsi disediakan. Dari burung tiung, puyuh, ruak ruak, hingga burung ayam ayaman. Setiap harinya Hj. Pariem, sang pemilik rumah makan, mampu menjual 200-an ekor burung. “Dulunya ini rumah makan biasa yang menyajikan banyak masakan. Tapi tak terlalu ramai. Saya jadi terpikir untuk menyajikan menu yang unik agar semakin ramai. Dan terpilihlah menu burung goreng. Sejak itu, pengunjung langsung ramai,” ujar Pariem, yang sudah membuka usaha rumah makan sejak 20 tahun silam.

Kendati awalnya menyediakan burung goreng hanya sebagai pancingan, namun menu tersebut justru menjadi andalan rumah makan milik Pariem. Bahkan menjadi rujukan para pelancong dari kawasan Medan dan sekitarnya ketika hendak menikmati sajian burung goreng. Pariem mengolah daging burung dengan cara diungkep menggunakan bumbu kuning. Ketika dipesan, barulah burung digoreng hingga cukup garing. Rasanya gurih dengan tekstur daging burung yang renyah. Seporsi burung goreng disajikan bersama sambal kecap dan sambal terasi.

Per porsi burung puyuh berukuran kecil disajikan tiga ekor, harganya Rp18 ribu. Sedangkan burung ayam ayaman yang ukurannya lebih besar, Rp 24 ribu per ekor. Bagi yang tak terlalu suka menyantap daging burung, Pariem menyediakan ayam kampung goreng. Untuk lauk pelengkapnya, tersedia rendang jengkol yang per porsinya Rp 10 ribu. Ada pula sambal kerang dan sambal tempe yang tidak kalah menggugah selera. Waroeng wong rame Dalam bahasa Jawa, nama warung ini berarti “orang ramai”. Sang pemilik, Johnny (50), tampaknya tak terlalu berlebihan menamai usahanya demikian. Lantaran warung makan yang dibuka sejak 2003 ini memang selalu terlihat sangat ramai.

Tabloid Saji dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI