Buku Khazanah Intelektual hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Sudah Benarkah Shalatku? : Panduan Gerakan dan Bacaan Shalat

Sudah Benarkah Shalatku?

Perintah shalat berbeda dengan perintah puasa, zakat, haji, serta ibadah-ibadah lainnya. Perintah ibadah-ibadah tersebut disampaikan Allah kepada Rasul-Nya melalui perantara Malaikat Jibril, sedangkan perintah shalat disampaikan langsung oleh Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. dalam peristiwa isra’ dan mi’raj.

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya, Allah MahaMendengar, Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 1)

Keputusan Allah Swt. menyampaikan perintah shalat tanpa perantara menunjukkan keistimewaan dan keutamaan ibadah ini. Perhatikan keterangan berikut. “... dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 45). Rasulullah Saw. bersabda, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (H.R. Muslim). “Jarak antara seseorang dan kekafirannya adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim)

Posisi shalat dalam peta keimanan seorang Muslim sangatlah strategis. Maka, alangkah disayangkan apabila shalat yang kita laksanakan belum sesuai dengan tata cara yang dicontohkan Rasulullah Saw. Padahal beliau berwasiat, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat” (H.R. Bukhari).

Pertanyaannya, Sudah Benarkah Shalatku? Sudah sesuaikah shalatku dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw.? Untuk itulah, buku ini hadir sebagai jawaban sebagian besar masyarakat yang ingin mengetahui tata cara shalat Rasulullah Saw.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Aam Amiruddin, Dr. MSi
Editor: Dini Handayani / Dadang Khaeruddin

Penerbit: Khazanah Intelektual
ISBN: 9789793838113
Terbit: April 2008, 266 Halaman

Ikhtisar

Perintah shalat berbeda dengan perintah puasa, zakat, haji, serta ibadah-ibadah lainnya. Perintah ibadah-ibadah tersebut disampaikan Allah kepada Rasul-Nya melalui perantara Malaikat Jibril, sedangkan perintah shalat disampaikan langsung oleh Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. dalam peristiwa isra’ dan mi’raj.

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya, Allah MahaMendengar, Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 1)

Keputusan Allah Swt. menyampaikan perintah shalat tanpa perantara menunjukkan keistimewaan dan keutamaan ibadah ini. Perhatikan keterangan berikut. “... dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 45). Rasulullah Saw. bersabda, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (H.R. Muslim). “Jarak antara seseorang dan kekafirannya adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim)

Posisi shalat dalam peta keimanan seorang Muslim sangatlah strategis. Maka, alangkah disayangkan apabila shalat yang kita laksanakan belum sesuai dengan tata cara yang dicontohkan Rasulullah Saw. Padahal beliau berwasiat, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat” (H.R. Bukhari).

Pertanyaannya, Sudah Benarkah Shalatku? Sudah sesuaikah shalatku dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw.? Untuk itulah, buku ini hadir sebagai jawaban sebagian besar masyarakat yang ingin mengetahui tata cara shalat Rasulullah Saw.

Ulasan Editorial

Shalat menempati posisi strategis dalam peta keimanan seorang Muslim. Namun, ternyata tak sedikit di antara kita yang masih melakukan kesalahan dalam doa dan gerakan shalat. Kesalahan pembelajaran di masa kecil dan keengganan mencari tahu kebenaran tata cara shalat ini menjadi sebuah kombinasi sempurna tentang kebutuhan kita akan pelaksanaan shalat yang sesuai dengan cara Rasulullah Saw.

Penulis yang memiliki jam terbang cukup tinggi di dunia dakwah ini menjawab tantangan tersebut. Dalam karyanya ini, intelektual muda yang telah teruji secara publik; dengan gaya penulisannya yang renyah, ilmiah edukatif, dan penuh pencerahan ini, memberikan panduan tentang gerakan dan bacaan dalam shalat.

Isinya yang lengkap, mudah dipahami, dan disertai ilustrasi gerakan shalat membuat buku ini mudah dicerna dan dipraktikkan untuk ibadah shalat Anda. Kutipan hadis dan ayat yang dijamin validitasnya dalam mendukung setiap penjelasan membuat Anda tidak ragu lagi mengenai kebenaran materi yang disampaikan.

Tidak salah jika buku ini dikoleksi di perpustakaan Anda, bahkan bisa Anda rekomendasikan untuk sahabat atau Anda jadikan kado terindah bagi orang-orang tercina

Khazanah Intelektual / Muslik

Pendahuluan / Prolog

Kedudukan Shalat
Shalat diwajibkan saat Nabi Saw. isra mi’raj. Artinya, ibadah shalat diperintahkan langsung oleh Allah Swt. Kenyataan ini menandakan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam sehingga setiap Muslim seharusnya memiliki perhatian besar dan kesadaran yang sangat tinggi terhadap shalat. Rasulullah Saw. sering menunjukkan pentingnya arti shalat dalam agama, yaitu:

1. Shalat sebagai Tiang Agama
Tiang merupakan penyangga utama sebuah bangunan. Tanpa tiang, tidaklah akan berarti seluruh bagian bangunan, sehebat dan semewah apa pun.

Begitu pula dengan agama, yang merupakan bangunan. Bagian-bagian dari bangunan agama itu adalah segala bentuk amal ibadah lainnya yang disyariatkan oleh agama. Untuk menjadikan bangunan agama itu tegak dan menjulang megah, diperlukan tiang yang kokoh. Tiang itu adalah shalat. Rasulullah Saw. bersabda, “... pokok segala urusan adalah Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, dia akan selamat; tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad ...” (H.R. Tirmidzi)

2. Shalat sebagai Benteng Terakhir
Benteng adalah alat pertahanan dan simbol dari sebuah kekuatan. Dengan demikian, jika shalat sebagai benteng terakhir telah diabaikan, kaum Muslimin akan terpuruk dan hancur berkeping tak bersisa.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab r.a. mengirim surat kepada seluruh gubernur. Surat itu berisikan pesan kepada mereka agar senantiasa memerhatikan shalat. Karena bila salah seorang di antara mereka telah mengabaikan shalat, mereka dipastikan akan mengabaikan urusan-urusan yang lain. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya akan terlepas ikatan-ikatan Islam satu per satu. Setiap kali ikatan lepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya; ikatan yang paling awal terlepas adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat” (H.R. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).

3. Shalat sebagai Identitas Keislaman
Identitas sangat penting bagi semua orang karena identitas akan menjadi bukti atas pengakuan resmi seseorang. Kalau ada orang yang mengaku, “Aku beragama Islam!” Apa buktinya dia beragama Islam? Buktinya dengan melaksanakan shalat.

Jadi, kalau ada orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak shalat, wajar kalau diragukan keislamannya. Bahkan, Rasulullah Saw. menilai bahwa garis pemisah antara Muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat. “Ciri yang membedakan seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim)

4. Shalat sebagai Amalan Pertama yang Akan Dihisab
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, dia akan bahagia dan selamat, dan jika shalatnya rusak, dia akan celaka dan rugi” (H.R. Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, akan beres juga seluruh perilakunya, dan apabila shalatnya rusak, akan rusak pula segala perilakunya” (H.R. Thabrani). Keterangan ini menegaskan bahwa shalat memiliki peranan penting; ia berfungsi sebagai katalisator yang menentukan apakah amalan seorang hamba itu beres atau rusak.

5. Shalat sebagai Sarana untuk Merawat Fitrah
Manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah artinya berkecenderungan baik dan beragama Islam (Lihat Q.S. Al-A‘rāf [7]:172). Namun, diakui dengan proses waktu dan sosialisasi dalam kehidupan, fitrah ini sangat mungkin ternodai dosa dan kemaksiatan sehingga kualitas fitrah akan mengalami penurunan, bahkan menjadi rusak. Oleh karena itu, diperlukan suatu fasilitas untuk menjaga kesucian fitrah. Dan, Allah Swt. telah menjadikan ibadah shalat sebagai sarana untuk menjaga kesucian fitrah tersebut.

Ciri bahwa fitrah seseorang dalam kualitas prima adalah adanya keyakinan bahwa “mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. Allah Swt. berfirman, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Salat itu berat, kecuali bagi orang-orang khusyuk, yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 45-46)

6. Shalat sebagai Obat Penyakit Hati
Manusia memiliki sejumlah sifat mulia, di antaranya jujur, syukur, dan pemaaf. Namun, di samping itu, manusia juga memiliki sejumlah sifat buruk, seperti putus asa, kikir, dan sombong. Shalat bisa menjadi sarana untuk mengobati sifat-sifat buruk manusia.

Perhatikanlah firman Allah Swt. berikut ini. “Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila mendapat keluasan harta, ia menjadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka konsisten melaksanakan salatnya,” (Q.S. Al-Ma‘ārij [70]: 19-23).

7. Shalat sebagai Sarana Pencuci Dosa
Tidak ada manusia yang steril dari dosa. Setiap hari, pasti ada dosa yang kita lakukan, baik disadari maupun tidak; baik dosa kecil maupun dosa besar. Shalat bisa menjadi alat pembersih untuk dosa-dosa kita.

Rasulullah Saw. bersabda, “Bagaimana pendapat kalian, andaikata sebuah sungai berada di rumah salah seorang di antaramu dan kamu mandi di sana lima kali dalam sehari, apakah masih tertinggal kotoran pada badannya?” Mereka berkata, “Tidak ada kotoran yang tertinggal pada badannya.” Beliau bersabda, “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima kali, Allah menghapus kesalahan-kesalahan” (H.R. Muttafaq ’alaih).

8. Shalat sebagai Pencegah Maksiat
Semua manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat salah. Apabila dorongan baik itu mendominasi dirinya, yang akan muncul adalah perilaku-perilaku mulia. Tetapi, kalau yang dominan pada dirinya adalah dorongan buruk, yang akan muncul adalah perilaku-perilaku nista. Dengan shalat, ia bisa menjadi energi untuk mencegah seseorang terjerumus pada perbuatan nista.

“Bacalah Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

Melihat kedudukan shalat yang begitu agung dan urgen, maka siapa pun yang menyia-nyiakan shalat, berarti dia sudah siap berhadapan dengan sanksi yang cukup berat, “‘Apa yang menyebabkanmu masuk ke dalam Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Dahulu, kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami tidak memberi makan orang miskin,’” (Q.S. Al-Muddaššir [74]: 42-44)Selanjutnya, Allah memberikan predikat munafik bagi mereka yang melalaikan dan riya (pamer) dalam shalatnya. “Sesungguhnya, orang munafik itu ... apabila salat, mereka melakukannya dengan malas. Mereka pamer di hadapan manusia. Mereka sangat sedikit mengingat Allah.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 142)

Penulis

Aam Amiruddin, Dr. MSi - Aam Amiruddin adalah intelektual muda yang senantiasa mengedepankan pendekatan dialog cerdas dalam menyampaikan gagasannya. Karenanya, banyak kalangan menaruh simpati dan mengaminkan opini-opininya. Dia tergolong produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual dalam bentuk buku. Tentu saja, kekayaan intelektual tersebut hasil tempaan dunia akademik yang tidak bosan dikenyamnya.

Dia menamatkan studi di Ma’had Ta’lim Lughah al ‘Arabiyyah (sekolah milik Kedutaan Saudi Arabia), mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni Islamic Studies di International Islamic Educational Institute, menamatkan program Magister Sains di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta menamatkan program Doktor Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Masyarakat luas mengenal suami dari Hj. Sasa Esa Agustiana, S.H. dan ayah dari Iqbal Rasyid Ridho, Tsania Shofia Afifa, dan Tsalitsa Syifa Afia ini sebagai narasumber di beberapa acara religi di Radio OZ 103,1 FM dan beberapa stasiun televisi swasta, seperti TVOne, RCTI, SCTV, TransTV, dll.

Daftar Isi

Pengantar
Penulis
W
udlu
     A. Alat Berwudlu
     B. Keutamaan Wudlu
     C. Tata Cara Berwudlu
     D. Pembatal Wudlu
     Bedah M
asalah
T
ayamum
     A. Alat Tayamum
     B. Cara Tayamum
     B
edah Masalah
M
andi
     A. Orang yang Wajib Mandi Besar
     B. Cara Mandi Besar
     C. Etika di Kamar Mandi
     D. Etika Buang Air Kecil dan Besar
     Bedah M
asalah
N
ajis
Azan & I
qamah
     A. Permulaan Disyariatkan Azan & Iqamah
     B. Menjawab Azan
     C. Doa Sesudah Azan
     Bedah M
asalah
M
asjid
     A. Perbuatan Terlarang di Masjid
     B. Doa Masuk dan Keluar dari Masjid
     C. Masjid yang Paling Utama
S
halat
     A. Kedudukan Shalat
     B. Waktu-Waktu Shalat
     C. Persiapan Shalat
     D. Tata Cara Shalat
     Bedah M
asalah
K
eringanan
     A. Shalat dalam Keadaan Sakit
     B. Shalat dalam Perjalanan
     C. Shalat dalam Peperangan
B
erjamaah
     A. Keutamaan Shalat Berjamaahdi Masjid
     B. Hukum Shalat Berjamaah
     C. Adab Shalat Berjamaah
     D. Adab Menjadi Imam
     E. Adab Menjadi Makmum
     F. Posisi Imam dan Makmum
     G. Masbuq
Shalat J
umat
     A. Amalan-amalan sebelum Jumat
     B. Adab Khatib
     C. Adab Makmum
     D. Shalat Sunah Ba‘da Shalat Jumat
     Bedah M
asalah
S
ujud
     A. Sujud Sahwi
     B. Sujud Tilawah
     C. Sujud Syukur
Tentang
Penulis
Daftar Pustaka

Kutipan

Wudlu
Wudlu adalah bentuk taharah (bersuci) untuk menghilangkan hadas kecil dengan mencuci dan mengusap sebagian anggota badan berdasarkan contoh Rasulullah Saw. Wudlu diperintahkan ketika akan melaksanakan shalat. Allah Swt. berfirman, “Hai, orang-orang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, sapulah kepalamu dan basuh kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki ...” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 6)

Tayamum
Tayamum adalah bentuk taharah (bersuci) sebagai pengganti wudlu dan mandi untuk menghilangkan hadas. Tayamum dilakukan ketika wudlu dan mandi tidak dapat dilaksanakan. Sebab-sebab tidak dapat dilaksanakannya wudlu dan mandi dijelaskan dalam ayat berikut. “...Jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, bertayamumlah dengan debu yang bersih jika kamu tidak memperoleh air. Usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu...” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 6)

Mandi
Mandi adalah membersihkan seluruh anggota badan dengan air sebagai bentuk taharah dari hadas besar. Perintah mandi diungkap dalam Surat Al-Mā’idah [5] ayat 6, “...Jika kamu junub, mandilah....” Berdasarkan ayat ini, orang yang kerkewajiban mandi disebut orang yang junub, dan mandinya disebut mandi janabat atau sering disebut dengan istilah mandi besar.

Najis
Najis adalah kotoran yang harus dibersihkan karena tidak boleh terbawa dalam shalat. Cara bersuci dari najis bergantung pada jenis najis yang akan dibersihkan. Berikut jenis-jenis najis dan cara membersihkannya.

Azan & Iqamah
Azan adalah pemberitahuan bahwa waktu shalat telah tiba dengan Menggunakan kalimat yang telah ditentukan. Karena berfungsi sebagai pemberitahuan, selayaknya azan itu dikumandangkan agar dapat menjangkau tempat yang jauh dan didengar oleh khalayak, misalnya dengan memakai pengeras suara atau yang lainnya.

Iqamah adalah pemberitahuan bahwa shalat wajib akan segera dimulai dengan menggunakan kalimat yang telah ditentukan.

Masjid
Kata masjid memiliki dua makna, yaitu makna umum dan makna khusus. Masjid dalam makna umum, artinya semua permukaan bumi yang dapat dijadikan tempat shalat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw., “Dijadikan buatku tanah untuk tempat shalat dan bersuci” (H.R. Bukhari).

Sementara, masjid dalam makna khusus adalah bangunan yang khusus dijadikan untuk tempat shalat. Rasulullah Saw. bersabda, ”Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap rido Allah, maka Allah akan membangun baginya rumah di surga” (H.R. Bukhari). Kata masjid dalam hadis ini adalah bangunan yang khusus dipakai untuk shalat. Begitupun kata masjid yang digunakan dalam buku ini adalah masjid dalam arti khusus, yakni bangunan masjid.

Shalat
Secara bahasa, shalat artinya doa. Dikatakan demikian karena seluruh kandungan shalat adalah doa. Ada dua macam doa, yaitu Du‘a Tsanaa’in artinya doa yang mengandung pujian. Misalnya, kita mengatakan Allahu Akbar (Allah Mahabesar), Subhaana rabbiyal a‘laa (Mahasuci Allah Yang Mahatinggi), dan sebagainya.

Jenis doa yang kedua adalah Du‘a Mas‘alatin artinya doa yang berisi permintaan. Misalnya, Ihdinaash shiraathal mustaqiim (Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus), Rabbigh firlii warhamnii ... (Ya Allah ampuni dan rahmati aku ...), dan sebagainya.

Kalau kita cermati, seluruh bacaan dalam shalat pasti berisi doa, baik pujian ataupun permintaan. Karena itu, secara bahasa, shalat artinya doa karena shalat semuanya berisi doa.

Menurut istilah para ahli fikih, shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapanucapan dan amalan-amalan khusus; dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Yang dimaksud dengan ucapan-ucapan dan amalan-amalan khusus adalah tata cara shalat yang wajib dikerjakan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw. dan bersumber pada dalil-dalil yang sahih. Rasulullah Saw. bersabda, “Shalatlah kamu, sebagaimana kamu melihat aku shalat” (H.R. Bukhari). Keterangan ini menunjukkan bahwa shalat itu harus mengikuti contoh Nabi Saw.

Keringanan
Islam adalah agama yang sempurna. Dengan kesempurnaannya itu, ajaran Islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak pula mengandung ajaran yang bertentangan dengan keadaan dan kemajuan zaman. Ajaran Islam bersifat kondusif, fleksibel, dan kondisional, termasuk perintah shalat.

Kewajiban shalat itu tidak tertawarkan, artinya kapan pun dan di mana pun shalat adalah wajib dikerjakan. Namun, apabila keadaan tidak memungkinkan untuk melaksanakan shalat sebagaimana mestinya, Allah dan Rasul-Nya memberikan beberapa rukhshah (keringanan).

Berjamaah
Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dengan cara-cara yang telah ditentukan oleh syara’. Dalam shalat berjamaah terdapat imam dan makmum. Imam artinya orang yang memimpin shalat, sedangkan makmum adalah orang yang mengikuti imam.

Dalam Al Quran, memang tidak terdapat keterangan secara tersurat mengenai shalat berjamaah. Namun secara tersirat, banyak ayat yang mengisyaratkan pentingnya shalat berjamaah. “Laksanakan salat, tunaikan zakat, dan ruku‘-lah beserta orang yang ruku‘.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 43) Kalimat ... rukulah beserta orang-orang yang ruku‘... menunjukkan bahwa shalat itu sebaiknya berjamaah. Shalat berjamaah dapat dilakukan minimal oleh dua orang. Rasulullah Saw. bersabda, “Dua orang atau lebih adalah berjamaah” (H.R. Ibnu
Majah dari Abu Musa al-Asy’ari r.a.).

Shalat Jumat
Shalat Jumat diwajibkan bagi setiap Muslim. Hal ini merujuk pada firman Allah Swt., “Hai, orang-orang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah perdaganganmu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 9)

Untuk menyempurnakan keutamaan shalat Jumat, kita dianjurkan mandi besar terlebih dahulu. Mandi besar pada hari Jumat ini bisa dilakukan mulai subuh sampai sebelum shalat Jumat dimulai. Itulah batas awal yang logis dari waktu “sebelum Jumat”.

Sujud
Berbicara masalah shalat, maka akan ada satu bagian yang tidak boleh dilewatkan, yaitu sujud. Ada tiga macam sujud; sujud sahwi, sujud tilawah, dan sujud syukur.