Pilihan investasi saat krisis

Majalah Peluang - Edisi 114
9 September 2019

Majalah Peluang - Edisi 114

Instrumen emas, saham atau aset tetap dapat dikoleksi untuk berjaga dari kondisi ekonomi yang memburuk.

Peluang
Krisis bukan hal baru dalam perekonomian modern. Sejak krisis besar pertama pada 1929 yang disebut malaise, dunia beberapa mengalami hal yang sama meski dengan daya resonansi yang berbeda. Belajar dari sejarah, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik terutama dalam berinvestasi.

Dalam kondisi penuh tekanan, sebaiknya investasi tidak ditempatkan pada satu instrumen. Diversifikasi investasi atau dalam pepatah klasik “jangan tempatkan telur dalam satu keranjang” tetap relevan. Meski hal ini pun akan mengurangi marjin investasi, namun lebih baik daripada rugi seluruhnya.

Salah satu instrumen investasi yang diburu adalah emas. Bentuknya bisa emas perhiasan, logam mulia, maupun dinar. Emas merupakan aset safe haven atau aset yang dipandang paling aman bagi investor ketika terjadi gejolak ekonomi. Emas sangat familiar bagi orang kebanyakan baik di kota maupun di desa. Instrumen ini dikenal relatif lebih stabil terhadap inflasi. Nilainya pun tidak akan terlalu jatuh meski terjadi guncangan.

Dari sisi makro, saat negara mengalami krisis, emas bisa menjadi alat tukar. Faktanya, kini emas diburu banyak orang. Ambil contoh, di China masyarakat antusias untuk mengoleksi logam mulia. Begitu pula di Jepang dan beberapa negara lainnya. Kelebihan instumen emas adalah bisa dijadikan dana darurat.

Ini karena emas lebih mudah dicairkan. Channel-channel yang bisa dijadikan tempat menukar emas pun semakin banyak. Bahkan perusahaan startup seperti Bukalapak dan Tokopedia pun kini menyediakan investasi emas. Sehingga konsumen dapat menabung emas dengan lebih mudah dan cepat tanpa harus pergi ke toko emas.

Majalah Peluang dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI