Mie nusantara, mie-nya anak bangsa

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3810
12 Agustus 2019

Tabloid Sinar Tani - Edisi 3810

Mie jagung

Sinar Tani
Banjirnya produk pangan impor seperti terigu membuat masyarakat Indonesia kini lebih terbiasa mengkonsumsi mie berbahan baku impor tersebut. Kondisi tersebut membuat perhatian terhadap pangan lokal pun menjadi terabaikan. Padahal potensi sumberdaya pangan lokal yang bisa menjadi bahan baku mie cukup besar.

Bahkan mie sudah dikenal sebagai makanan alternatif pengganti nasi. Mie sangat digemari mulai dari orang tua hingga anak-anak. Jika melihat pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini, mie memang menjadi sumber karbohidrat kedua yang banyak dikonsumsi setelah beras (nasi).

Sayangnya selama ini mie yang banyak dikonsumsi masyarakat umumnya terbuat dari bahan baku impor (terigu). Dari hasil penelitian, ternyata pola konsumsi masyarakat mulai bergeser ke terigu dan mie. Bahkan kini ketergantungan masyarakat terhadap terigu semakin tinggi dari tahun ke tahun. Terlihat dari kenaikan konsumsi terigu nasional dari 15,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2008 menjadi 25 kg/kapita/tahun pada 2018.

Artinya, meningkat 1 kg/ kapita/tahun. Hal ini tentunya membuat beban devisa negara semakin meningkat. Alasan utama terigu menjadi bahan baku utama pembuatan mie adalah teksturnya yang kenyal dan tidak mudah patah karena mengandung gluten. Guna mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, kini telah dikembangkan mie dari bahan pangan lokal.

Balai Besar Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, telah memieliki teknologi pengolahan mie berbahan baku tepung dalam negeri, seperti ubi kayu, sorgum, sagu dan anjeli. “Mie Nusantara diproduksi untuk mengurangi konsumsi mie instan berbahan terigu, sehingga berdampak kepada pengurangan impor terigu. Di samping itu, mie nusantara ini berserat tinggi, IG rendah, baik untuk diet dan penderita diabetes,” kata Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen, Prayudi Syamsuri.

Tabloid Sinar Tani dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI