Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Cinta Segitiga: Allah-Rasul-Manusia

Cinta Segitiga

Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam untuk Rasulullah, Muhammad Saw. Dengan izin dan pertolongan Allah Swt, kami bisa merampungkan penulisan buku berjudul: CINTA SEGITIGA: Allah - Rasul - Manusia, yang ada di tangan pembaca saat ini, diterbitkan oleh AMP Press Jakarta. Kiranya upaya penulisan hingga terbitnya buku ini dapat menjadi sebuah amal shalih walaupun kecil, baik bagi penulis maupun penerbit, yang dapat bermanfaat bagi kaum Muslim.

Ada satu hal penting berkaitan dengan cinta, bahwa cinta yang baik atau cinta yang suci adalah suatu kebaikan, dan prinsip dari kebaikan adalah siapa yang melakukan kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Demikian pula halnya dengan cinta yang baik atau cinta yang suci dari seorang yang mencintai akan memperoleh balasan cinta dari siapa yang dicintainya.

Seorang hamba yang mencintai Allah, maka ia akan dicintai pula oleh Allah Swt yang dicintainya. Dan hanya orang yang dicintai Allah, yang dianugerahi iman oleh-Nya. Adapun orang yang tidak dicintai Allah, tidaklah dianugerahi iman oleh-Nya. Karena itu, Allah Swt mencintai orang beriman. Sebaliknya, orang-orang yang beriman sangatlah cinta kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 165.

Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah Saw, lalu patuh dan mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa atau disampaikan Rasulullah Saw, dan juga meneladani akhlak mulianya, maka cintanya pada Rasulullah Saw merupakan balasan atas cinta Rasul kepadanya, sebab “Rasulullah Saw sangat mencintai umatnya”, sebagaimana yang dapat dipahami dari firman Allah Surat At-Taubah ayat 128. Dan jika demikian, kelak ia akan mendapatkan syafaat Rasulullah pada hari kiamat.

Mencintai Rasulullah Saw merupakan bukti atau tanda dari cintanya sebagai hamba kepada Allah Swt, sebab seseorang yang mencintai Allah, haruslah mencintai Rasulullah Saw, dan itu juga berarti ia telah memiliki kunci penting untuk meraih cinta Allah serta ampunan Allah atas dosa-dosanya. Para pencinta Rasulullah Saw itu yang pertama dan utama adalah keluarga dekat beliau yaitu istri beliau, anak-anaknya dan cucunya. Kemudian para sahabat beliau, para tabi’in, tabi’ at-tabi’in, lalu umat beliau secara umum.

Cinta istri Rasulullah kepada beliau merupakan perpaduan antara cinta seorang istri pada suaminya dan cinta muslimah terhadap Nabinya, serta buah dari cinta sebagai hamba kepada Allah Swt. Cinta anak-anak beliau, merupakan perpaduan antara cinta seorang anak kepada ayahnya dan cinta umat terhadap Nabinya, serta buah dari cinta hamba kepada Allah Swt.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Muhammad Rusli Amin, Al-Ustadz H. MA / Muhammad Guntur Alting, H. Dr. M.Pd., M.Si
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247626
Terbit: Februari 2015, 216 Halaman

Ikhtisar

Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam untuk Rasulullah, Muhammad Saw. Dengan izin dan pertolongan Allah Swt, kami bisa merampungkan penulisan buku berjudul: CINTA SEGITIGA: Allah - Rasul - Manusia, yang ada di tangan pembaca saat ini, diterbitkan oleh AMP Press Jakarta. Kiranya upaya penulisan hingga terbitnya buku ini dapat menjadi sebuah amal shalih walaupun kecil, baik bagi penulis maupun penerbit, yang dapat bermanfaat bagi kaum Muslim.

Ada satu hal penting berkaitan dengan cinta, bahwa cinta yang baik atau cinta yang suci adalah suatu kebaikan, dan prinsip dari kebaikan adalah siapa yang melakukan kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Demikian pula halnya dengan cinta yang baik atau cinta yang suci dari seorang yang mencintai akan memperoleh balasan cinta dari siapa yang dicintainya.

Seorang hamba yang mencintai Allah, maka ia akan dicintai pula oleh Allah Swt yang dicintainya. Dan hanya orang yang dicintai Allah, yang dianugerahi iman oleh-Nya. Adapun orang yang tidak dicintai Allah, tidaklah dianugerahi iman oleh-Nya. Karena itu, Allah Swt mencintai orang beriman. Sebaliknya, orang-orang yang beriman sangatlah cinta kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 165.

Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah Saw, lalu patuh dan mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa atau disampaikan Rasulullah Saw, dan juga meneladani akhlak mulianya, maka cintanya pada Rasulullah Saw merupakan balasan atas cinta Rasul kepadanya, sebab “Rasulullah Saw sangat mencintai umatnya”, sebagaimana yang dapat dipahami dari firman Allah Surat At-Taubah ayat 128. Dan jika demikian, kelak ia akan mendapatkan syafaat Rasulullah pada hari kiamat.

Mencintai Rasulullah Saw merupakan bukti atau tanda dari cintanya sebagai hamba kepada Allah Swt, sebab seseorang yang mencintai Allah, haruslah mencintai Rasulullah Saw, dan itu juga berarti ia telah memiliki kunci penting untuk meraih cinta Allah serta ampunan Allah atas dosa-dosanya. Para pencinta Rasulullah Saw itu yang pertama dan utama adalah keluarga dekat beliau yaitu istri beliau, anak-anaknya dan cucunya. Kemudian para sahabat beliau, para tabi’in, tabi’ at-tabi’in, lalu umat beliau secara umum.

Cinta istri Rasulullah kepada beliau merupakan perpaduan antara cinta seorang istri pada suaminya dan cinta muslimah terhadap Nabinya, serta buah dari cinta sebagai hamba kepada Allah Swt. Cinta anak-anak beliau, merupakan perpaduan antara cinta seorang anak kepada ayahnya dan cinta umat terhadap Nabinya, serta buah dari cinta hamba kepada Allah Swt.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Cinta sahabat kepada Rasulullah Saw merupakan perpaduan antara cinta seorang sahabat dan seorang Muslim pada Rasulullah, sebagai buah dari cinta hamba pada Allah Swt. Dan cinta umat kepada Rasulullah Saw merupakan cinta umat pada Nabinya, sebagai buah cinta hamba pada Allah Swt. Begitulah seterusnya, jika kita mengaitkan cinta yang baik atau cinta suci itu pada manusia. Anak yang mencintai orang tua, maka ia akan dicintai orang tua yang dicintainya. Orang tua yang mencintai anak, maka ia akan dicintai oleh anak yang dicintainya. Suami yang mencintai istri, maka ia akan dicintai oleh istri yang dicintainya. Sebaliknya, istri yang mencintai suami, maka ia akan dicintai oleh suami yang dicintainya.

Seorang Muslim yang mencintai Muslim lainnya, maka ia akan dicintai oleh Muslim yang dicintainya, bahkan dicintai oleh para penghuni langit, sebab “Siapa yang mencintai (menyayangi) maka ia pun akan dicintai (disayangi)…. Jika kita mencintai (menyayangi) penghuni bumi, maka para penghuni langit akan mencintai (menyayangi) kita.”

Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak H. Evi Afrizal Sinaro, selaku pimpinan penerbit Al-Mawardi, juga terima kasih kepada Saudara Abdul Hanan al-Hasany serta semua rekan di AMP Press, atas semua kebaikan yang telah diberikan, sehingga buku ini bisa diterbitkan. Terima kasih juga yang sebanyak-banyaknya kepada para pembaca. Kiranya Allah Swt senantiasa merahmati dan memberkahi serta memberi balasan pahala atas kebaikan kita, amiin.

Daftar Isi

Pengantar
Daftar Isi
Arti Mahabbah
Allah Mencintai, Karena Dia Maha Mencintai
Allah Mencintai Orang Beriman
Allah Mencintai Orang yang Berbuat Kebajikan
Allah Mencintai Orang yang Bertaubat
     Kegembiraan Allah Atas Orang yang Bertaubat
     Akibat Dosa dan Manfaat Taubat
Allah Mencintai Orang yang Sabar
     Bersabar dalam Ibadah
     Bersabar dalam Kesusahan
Allah Mencintai Orang yang Bertawakkal
     Memadukan Sabar dengan Tawakkal
     Tawakkal itu Pasrah di Hati, Kerja di Tangan
Nabi Ibrahim As Kesayangan Allah Swt
Cobaan Adalah Tanda Cinta Allah Swt
     Cobaan Nabi Ibrahim As
     Cobaan Nabi Ayub As
     Cobaan untuk Orang Beriman
     Macam-macam Cobaan Hidup
Allah Mencintai Orangyang Cinta pada Rasulullah
Orang Beriman SangatCinta Kepada Allah Swt
     Hubungan Iman dengan Cinta
     Orang Beriman Mencintai Allah
Mengenal Allah Agar Mencintai-Nya
     Mengenal Allah sebagai Pencipta
     Mengenal Anugerah Allah
     Mengenal Rahmat Allah
Mencintai Allah karena Nikmat-Nya
     Langkah Awal Menjadi Pencinta Allah Swt
     Menjadi Hamba yang Selalu Bersyukur
     Syaakir dan Syakuur
Selalu Berzikir pada Allah Swt
Shalat Sebagai Tanda Cinta pada Allah Swt
Cinta Dunia, Penghalang Mencintai Allah
     Harta Bisa Baik dan Bisa Buruk
     Harta dan Ibadah
     Bersikap Benar terhadap Harta
Zuhud terhadap Kehidupan Dunia
Potret Pribadi Pencinta Allah Swt
     Abdullah bin Jahsy
     Abu Dahdah
     Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi
     Urwah bin Zubair
     Junaid al-Baghdadi
     Rabiah al-Adawiyah
Rasulullah Saw Sangat Mencintai Umatnya
Mengenal Rasulullah Saw, Awal Mencintainya
Mengikuti Rasulullah Saw
Bershalawat Atas Nabi Saw
     Shalawat sebagai Tanda Cinta pada Rasulullah Saw
     Agar Menjadi Dekat dengan Nabi Saw pada Hari Kiamat
     Shalawat Kita Diperlihatkan kepada Rasulullah Saw di Alam Kubur
     Memulai Doa dengan Mengucapkan Shalawat atas Nabi Saw
     Kegembiraan Nabi atas Kabar dari Malaikat tentang Orang yang Bershalawat
     Nabi Saw Mengaminkan Doa Malaikat Jibril tentang Shalawat
Potret Pribadi Pencinta Rasulullah Saw
     Abu Bakar ash-Shiddiq
     Umar bin Khaththab
     Utsman bin Affan
     Ali bin Abi Thalib
     Abu Dzar al-Ghifary
     Usaid bin Hudhair
     Nusaibah binti Ka’ab
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Arti Mahabah
Sudah seyogianya jika kita ingin membahas tentang cinta Allah kepada manusia dan cinta manusia kepada Allah, juga cinta kepada Rasulullah Saw, maka langkah pertama adalah hendaklah terlebih dahulu kita mengenal arti kata cinta tersebut. Pada umumnya, kata yang lazim dipakai oleh para ulama ketika membicarakan tentang cinta Allah kepada manusia dan cinta manusia kepada Allah, adalah kata mahabbah.

Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, secara bahasa, kata mahabbah itu berasal dari kata al-habab, berarti air yang meluap setelah turun hujan lebat. Atas dasar itu, maka mahabbah atau cinta itu diartikan sebagai luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.

Kalau kita mempelajari arti kata cinta (mahabbah), maka kita akan mendapati betapa banyak arti kata cinta itu yang telah diketengahkan. Dan semua itu menggambarkan atau menjelaskan apa-apa yang terkandung dalam kata cinta itu. Beberapa di antara definisi cinta itu adalah: (1) Mendahulukan kepentingan yang dicintai daripada kepentingan apapun yang lainnya. (2) Menuruti keinginan yang dicintai, baik tatkala sang kekasih ada di sampingnya ataukah tidak. (3) Menyatukan keinginan yang mencintai dan yang dicintai. Keinginan pencinta dan yang dicintai adalah satu atau sama. (4) Luapan hati yang tak terbendung karena selalu ingin mengingat yang dicintai. (5) Cinta hakiki adalah menyerahkan apapun yang ada pada diri pencinta kepada yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang tersisa pada diri pencinta. (6) Kecondongan hati secara total kepada yang dicintai, lalu rela mengorbankan harta dan jiwa, demi yang dicintai. (7) Mahabbah atau cinta itu berarti tenang tapi gundah, dan gundah tapi tenang. Hati menjadi tenang jika telah berdekatan dengan sang kekasih, dan menjadi gundah karena berjauhan serta rindu kepadanya. (8) Mahabbah adalah gerakan hati yang tiada henti mengingat sang kekasih dan ketenangan manakala telah bersanding dengannya.

Syaikh al-Qusyairi an-Naisaburi menghimpun sejumlah arti atau definisi cinta (mahabbah) dari para ulama, didalam buku beliau yang terkenal Ar-Risalah, (1) Cinta itu menganggap sedikit pemberian kepada yang dicintai (walaupun banyak) dan menganggap banyak pemberian sang kekasih, walaupun sebenarnya pemberian itu sedikit. (2) Cinta adalah masuknya (menyatunya) sifat-sifat yang mencintai (kekasih) kepada sifat-sifat yang dicintai. (3) Hakikat cinta adalah jika engkau memberi, maka engkau memberikan semua yang engkau miliki kepada yang engkau cintai, tanpa tersisa sidikitpun untukmu. (4) Cinta berarti selalu memuji-muji yang dicintai, sehingga yang mencintai tenggelam dalam sifat-sifat sang kekasih dan sebaliknya melupakan sifat-sifat dirinya sendiri.

Menurut Prof. Dr. Musfir bin Said az-Zahrani, cinta adalah pengikat kuat, yang mengikat antara manusia de-ngan Tuhannya, sehingga ia selalu ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, dalam mengamalkan ajaran-ajarannya, dan selalu istiqamah kepada agama-Nya. Cinta juga yang me-nyatukan secara spiritual antara seorang Muslim dengan Rasulullah Saw, sehingga ia selalu berusaha istiqamah dalam mengikuti tuntunan Rasulullah, serta menjadikan beliau sebagai teladan tertinggi baik dalam ucapan maupun perbuatan. Juga cinta merupakan suatu kondisi psiko-logis terpenting, yang menyatukan dan mengharmoniskan hubungan antara sesama manusia.

Semua arti cinta yang telah diketengahkan di atas, ada yang terjadi antara manusia dengan manusia, antara seorang kekasih dengan kekasihnya, antara seorang suami dengan istrinya dan sebaliknya antara seorang istri dengan suaminya, antara orang tua dengan anaknya, dan sebaliknya, antara anak dengan orang tuanya. Dan juga antara manusia dengan Tuhannya, serta antara seorang Muslim dengan Rasulullah Saw. Tapi yang paling utama, tinggi dan mulia adalah cinta antara manusia dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. Musfir bin Said az-Zahrani, bahwa cinta manusia kepada Allah, adalah dasar dari semua cinta kepada yang lainnya. Orang yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai semua yang mendekati Allah. Sesungguhnya cinta manusia kepada Allah akan menjadi energi yang mampu mengarahkan perilakunya menuju kebaikan dan keridhaan-Nya. Cinta ini pula yang dapat menjauhkan seseorang dari semua yang dibenci Allah Swt.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan, bahwa tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai oleh hati (orang beriman) melebihi cintanya kepada Tuhannya, Penciptanya. Dia-lah yang disembah olehnya. Dia-lah yang menjadi walinya, Pengaturnya, Pemberi rezekinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Cinta hati (orang beriman) kepada Allah merupakan suatu kenikmatan dan kesenangan bagi jiwa, kehidupan bagi ruh, kekuatan bagi hati, cahaya bagi akal dan pendorong bagi ruhani. Tiada sesuatupun yang lebih baik bagi hati yang jernih, ruh yang baik dan akal yang cerdas, kecuali kerinduan untuk ‘berjumpa dengan Tuhannya’. Inilah keindahan paling berharga bagi hati dan kenikmatan yang melebihi kenikmatan apapun.