Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Dahsyatnya Puasa Nabi Daud

Dahsyatnya Puasa Nabi Daud

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang senantiasa memberikan kesempatan dan jalan kepada hamba-hamba-Nya untuk meraih derajat terbaik di sisi-Nya. Siapa saja yang berupaya mendekat kepada-Nya maka Dia akan lebih mendekat lagi melebihi yang disangkakan hamba-Nya. Siapa yang menjauh dari-Nya maka Dia akan memberi kesempatan untuk mendatangi-Nya. Dialah Sang Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan baginda Rasulullah Muhammad Saw yang telah memberikan contoh terbaik kepada kita dalam beribadah kepada Allah Swt dan memberikan teladan dalam meraih kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat. Juga kepada keluarganya, para Sahabatnya, Tabi’in, dan kita semua semoga termasuk di dalamnya.

Atas rahmat, karunia, dan pertolongan Allah Swt Alhamdulillah penulis bisa menyelesaikan sebuah buku tentang puasa sunnah yang diberi judul “Dahsyatnya Puasa Nabi Daud.” Buku ini dipersembahkan bagi kaum Muslimin yang ingin mencapai kedekatan dengan Allah Swt dan meraih kemuliaan di sisi-Nya dengan beribadah puasa sunnah yang paling utama yakni puasa Daud.

Puasa Daud dikatakan sebagai puasa sunnah paling utama karena memang Rasulullah Saw mengatakan demikian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amru ra, ia mengatakan: “Telah sampai kepada Nabi Saw berita tentang aku, bahwa aku akan terus berpuasa dan shalat malam. Aku tak ingat lagi, apakah kemudian beliau mengutus utusan atau aku menemui beliau, dan Beliau Saw berkata: “Apakah benar kabar bahwa kamu akan berpuasa tidak akan berbuka dan shalat malam (tanpa tidur)? Puasa dan berbukalah, shalat dan juga tidurlah. Karena bagi matamu ada bagian hak atasmu dan bagi dirimu dan keluargamu ada bagian hak atasmu”. ‘Abdullah bin ‘Amru ra berkata: “Sungguh aku lebih kuat dari (amal-amal) itu.” Beliau Saw berkata: “Kalau begitu puasalah dengan puasanya Nabi Daud As.” Aku bertanya: “Bagaimana caranya?” Beliau Saw menjawab: “Nabi Daud As berpuasa sehari dan berbuka sehari sehingga dia tidak akan kabur ketika berjumpa dengan musuh.” Dia berkata: “Lalu siapa teladan bagi diriku dalam masalah puasa sepanjang zaman ini wahai Nabi Allah? ‘Atha’ berkata: “Aku tidak tahu bagaimana dia menyebutkan puasa abadi (sepanjang hidup), karena Nabi Saw bersabda: “Tidak dianggap puasa bagi siapa yang puasa abadi.” Beliau mengucapkannya dua kali. (HR. Bukhari)

Juga hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk menjalankan puasa sunnah yang terbaik, yaitu puasa Nabi Daud As.

Nabi Saw bersabda: “Maka puasalah seperti puasa Daud As yaitu satu hari puasa satu hari berbuka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan An-Nasai)

Dari kedua hadits di atas kita dapat menyimpulkan bahwa puasa Daud merupakan puasa sunnah yang paling utama di antara puasa-puasa sunnah yang diperintahkan. Puasa Daud juga merupakan puasa yang seimbang. Karena pelaksanaannya tidak mengabaikan hak dan kewajiban yang lain.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Adam Cholil, Al Ustadz
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247237
Terbit: Juni 2013, 205 Halaman

Ikhtisar

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang senantiasa memberikan kesempatan dan jalan kepada hamba-hamba-Nya untuk meraih derajat terbaik di sisi-Nya. Siapa saja yang berupaya mendekat kepada-Nya maka Dia akan lebih mendekat lagi melebihi yang disangkakan hamba-Nya. Siapa yang menjauh dari-Nya maka Dia akan memberi kesempatan untuk mendatangi-Nya. Dialah Sang Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan baginda Rasulullah Muhammad Saw yang telah memberikan contoh terbaik kepada kita dalam beribadah kepada Allah Swt dan memberikan teladan dalam meraih kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat. Juga kepada keluarganya, para Sahabatnya, Tabi’in, dan kita semua semoga termasuk di dalamnya.

Atas rahmat, karunia, dan pertolongan Allah Swt Alhamdulillah penulis bisa menyelesaikan sebuah buku tentang puasa sunnah yang diberi judul “Dahsyatnya Puasa Nabi Daud.” Buku ini dipersembahkan bagi kaum Muslimin yang ingin mencapai kedekatan dengan Allah Swt dan meraih kemuliaan di sisi-Nya dengan beribadah puasa sunnah yang paling utama yakni puasa Daud.

Puasa Daud dikatakan sebagai puasa sunnah paling utama karena memang Rasulullah Saw mengatakan demikian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amru ra, ia mengatakan: “Telah sampai kepada Nabi Saw berita tentang aku, bahwa aku akan terus berpuasa dan shalat malam. Aku tak ingat lagi, apakah kemudian beliau mengutus utusan atau aku menemui beliau, dan Beliau Saw berkata: “Apakah benar kabar bahwa kamu akan berpuasa tidak akan berbuka dan shalat malam (tanpa tidur)? Puasa dan berbukalah, shalat dan juga tidurlah. Karena bagi matamu ada bagian hak atasmu dan bagi dirimu dan keluargamu ada bagian hak atasmu”. ‘Abdullah bin ‘Amru ra berkata: “Sungguh aku lebih kuat dari (amal-amal) itu.” Beliau Saw berkata: “Kalau begitu puasalah dengan puasanya Nabi Daud As.” Aku bertanya: “Bagaimana caranya?” Beliau Saw menjawab: “Nabi Daud As berpuasa sehari dan berbuka sehari sehingga dia tidak akan kabur ketika berjumpa dengan musuh.” Dia berkata: “Lalu siapa teladan bagi diriku dalam masalah puasa sepanjang zaman ini wahai Nabi Allah? ‘Atha’ berkata: “Aku tidak tahu bagaimana dia menyebutkan puasa abadi (sepanjang hidup), karena Nabi Saw bersabda: “Tidak dianggap puasa bagi siapa yang puasa abadi.” Beliau mengucapkannya dua kali. (HR. Bukhari)

Juga hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk menjalankan puasa sunnah yang terbaik, yaitu puasa Nabi Daud As.

Nabi Saw bersabda: “Maka puasalah seperti puasa Daud As yaitu satu hari puasa satu hari berbuka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan An-Nasai)

Dari kedua hadits di atas kita dapat menyimpulkan bahwa puasa Daud merupakan puasa sunnah yang paling utama di antara puasa-puasa sunnah yang diperintahkan. Puasa Daud juga merupakan puasa yang seimbang. Karena pelaksanaannya tidak mengabaikan hak dan kewajiban yang lain.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Puasa adalah salah satu ibadah yang bisa mendekat-kan diri kita dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Karena puasa merupakan satu di antara ibadah-ibadah yang paling utama di sisi Allah Swt. Bahkan Allah Swt sendiri menjanjikan pahala khusus buat orang yang berpuasa. Selain itu disediakan pula pintu khusus di surga Ar-Rayyan, yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang gemar berpuasa. Serta berbagai keistimewaan-keistimewaan lainnya yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun sunnah.

Sejarah ibadah puasa sama tuanya dengan peradaban manusia. Karena ibadah puasa ternyata bukan hanya dilakukan oleh manusia saja tetapi dilakukan pula oleh makhluk-makhluk Allah yang lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Nabi Adam As berpuasa tiga hari setiap bulannya yakni pada tanggal 13, 14 dan 15, atau dinamakan shaum abyadh (puasa mutih). Hal tersebut beliau lakukan sebagai upaya permohonan ampunan dan taubat kepada Allah Swt Karena beliau telah melanggar larangan Allah memakan buah Khuldi yang mengakibatkan beliau dikeluarkan dari surga yang indah dan mewah dan harus menempati dunia yang penuh dengan fatamorgana. Di samping itu beliau selalu berdoa kepada Allah Swt:

“Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf [07]: 23)

Nabi Nuh As berpuasa sepanjang tahun. Sedangkan Nabi Daud As melaksanakan puasa dengan cara sehari berbuka dan sehari berpuasa. Jadi dalam setahun beliau puasa 6 bulan atau setengah tahun. Imam Al-Qurthubi, dalam kitab tafsirnya, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah Swt telah mewajibkan puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat Nabi Isa As selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka mengubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Allah Swt mengisahkan peristiwa ini dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. At-Taubah [09]: 37)

Yang dimaksud bulan haram adalah bulan; Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Bulan-bulan tersebut adalah bulan-bulan yang dihormati dan dalam bulan-bulan tersebut tidak boleh diadakan peperangan. tetapi peraturan ini dilanggar oleh mereka dengan Mengadakan peperangan di bulan Muharram, dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan yang dihormati untuk pengganti bulan Muharram itu. Sekalipun bilangan bulan-bulan yang disucikan yaitu, empat bulan juga. tetapi dengan perbuatan itu, tata tertib di Jazirah Arab menjadi kacau dan lalu lintas perdagangan terganggu.

Sedangkan umat Nabi Muhammad Saw diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Sedangkan selain itu adalah sunnah seperti puasa setiap hari Senin dan hari Kamis, puasa pada bulan-bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah), 6 hari di bulan Syawal, puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, dan lainnya termasuk puasa Daud. Mengenai kewajiban puasa Ramadhan bagi umat Islam diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [02]: 183)

Puasa dilakukan oleh umat terdahulu dengan berbagai modelnya dan jumlah harinya maupun bulan pelaksanannya. Tidak hanya seperti puasa yang kita lakukan saat ini yakni meninggalkan makan dan minum serta hal-hal yang mem-batalkan lainnya pada siang hari, di bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Umat Yahudi diperintahkan berpuasa 1 hari pada hari ke-10 bulan ke-7 dalam hitungan bulan mereka selama sehari semalam. Sementara masyarakat Mesir kuno, Yunani, Hindu, Budha, juga melaksanakan puasa berdasarkan perintah tokoh agama mereka. Umat Nasrani juga berpuasa dalam hal-hal tertentu, seperti puasa daging, susu, telur, ikan, bahkan berbicara. Model puasa yang hanya menjauhi berbicara dilakukan oleh Maryam binti Imran, Ibunda Nabi Isa As. Beliau berpuasa tidak berbicara kepada orang-orang yang mencemoohnya karena melahirkan anak tanpa ayah. Tapi beliau masih tetap makan dan minum serta melakukan aktivitas lainnya. Allah mengisahkan hal ini dalam Al-Qur’an:

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS. Maryam [19]: 26)

Puasa sebagai salah satu jalan yang disyariatkan oleh Allah Swt agar manusia tetap berada pada fitrahnya yakni sebagai seorang hamba. Ibadah puasa akan mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Saat manusia enggan berpuasa ia cenderung terlena dengan kehidupan yang membuatnya lupa akan hakikat dirinya. Sehingga di antara manusia ada yang sampai memiliki sifat diluar sifat manusiawi; sombong, tamak, hasud, dendam dan berbagai sifat lainnya yang lebih banyak melekat pada hewan atau setan.


Daftar Isi

Sampul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan
Bab 1: Sekilas Tentang Puasa Daud
     Keutamaan Ibadah Puasa
     Puasa Daud, Puasa Yang Paling Utama
     Puasa Daud, Puasa Yang Adil
     Puasa Dengan Komitmen Tinggi
Bab 2: Keistimewaan Puasa Daud
     Memelihara Kepribadian Seorang Muslim
     Wujud Kepribadian Orang yang Gemar Berpuasa
          1. Terjaga dari melakukan maksiat
          2. Memiliki akhlak yang baik
          3. Ketakwaan semakin meningkat
          4. Mendidik sabar
          5. Mendidik menjadi Mukhlishin (orang yang ikhlas)
          6. Menundukkan hawa nafsu dan mengalahkan setan
          7. Mengenal arti sebuah nikmat
          8. Fitrah yang Terus Terjaga
          9. Semakin dekat dengan Allah
          10. Gemar berdoa
          11. Tidak merasa takut dan khawatir
          12. Memiliki hati yang tenteram
          13. Bersih dari penyakit takabbur (sombong)
     Keutamaan Orang yang Berpuasa
          1. Dibuatkan pintu khusus di surga, yang hanya bolehdimasuki oleh orang-orang yang gemar berpuasa
          2. Dirindukan surga
          3. Diberi makanan dan minuman yang penuh kenikmatan disurga.
          4. Mendapat kebahagiaan berjumpa dengan Allah
          5. Diberi balasan langsung (istimewa) oleh Allah
          6. Terjaga dari api neraka
          7. Mendapat syafaat dari Allah Swt
     Manfaat Puasa Bagi Kesehatan
          1. Mencegah kemandulan pada wanita
          2. Mencegah penyakit Jantung
          3. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel
          4. Menyembuhkan penyakit ginjal
          5. Menambah imunitas bagi tubuh
          6. Menambah panjang umur
          7. Meningkatkan kesuburan pada sperma laki-laki
          8. Menyembuhkan penyakit lemah syahwat dengan memperbaikihormon testoteron dan performa seksual
          9. Menyembuhkan penyakit mental
          10. Meningkatkan komunikasi psikososial baik dengan Allahdan sesama manusia
          11. Menurunkan adrenalin
          12. Menyembuhkan penyakit gula
          13. Menyehatkan sistem pencernaan
          14. Menambah daya tahan tubuh
          15. Meremajakan sel-sel tubuh
          16. Menyembuhkan penyakit depresi atau kecemasan yangberlebihan
          17. Menyembuhkan penyakit kelainan seksual
          18. Menyehatkan mata
          19. Meremajakan kulit
          20. Menyembuhkan penyakit infeksi
          21. Menyembuhkan beberapa penyakit sirkulasi darahperiferal (pembuluh darah lembut),
          22. Menyembuhkan penyakit radang sendi (encok) akut(rematoid)
          23. Menyembuhkan penyakit maag
          24. Mencegah obesitas
          25. Menyembuhkan Kolesterol
          26. Mencegah penyakit Osteoporosis
          27. Menyembuhkan penyakit hepatitis B
          28. Mendetoksifikasi tubuh
          29. Mengatasi kecanduan
          30. Membersihkan pernafasan
Bab 3: Ketentuan MelaksanakanPuasa Daud
     Hukum Niat Puasa Daud
     Hal-hal Yang Membatalkan Puasa
     Hal-Hal Yang Dilarang Saat Berpuasa
Bab 4: Amalan Penting Saat Berpuasa
     1. Orang yang berniat puasa hendaknya melaksanakan sahur
     2. Mengakhirkan sahur
     3. Menyegerakan berbuka (ifthar)
     4. Membaca doa saat berbuka
     5. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum ketika berbuka
     6. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, mendengarkannya, dan mentadabburinya
     7. Memperbanyak berdoa untuk kebaikan dunia akhirat
     8. Memperbanyak berzikir kepada Allah
     9. Memohon kepada Allah untuk Mati Syahid
     10. Membaca Surat Al-Kahfi atau sepuluh ayat pertama, atau sepuluh ayat terakhir
     11. Memperbanyak sedekah terutama terhadap kerabat dan fakir miskin
     12. Membaca Shalawat untuk Rasulullah Saw
Bab 5: Sejarah Singkat Nabi Daud As
     Masa Kecil Nabi Daud As
     Mengalahkan Jalut
     Daud Menjadi Raja
     Daud Menjadi Rasul
Bab 6: Mukjizat dan Keagungan Akhlak Nabi Daud As
     Mukjizat Nabi Daud As
     Keagungan Akhlak Nabi Daud As
Bab 7: Testimoni Para Pelaku Puasa Daud
     Testimoni 1: Hidup Sehat Dengan Puasa Daud
     Testimoni 2: Keluar Dari Permasalahan Hidup Setelah Berpuasa Daud
     Testimoni 3: Rahasia Puasa Daud Sungguh Menakjubkan
     Testimoni 4: Sembuh Dari Penyakit Setelah Berpuasa Daud
     Testimoni 5: Puasa Daud, datangkan Kebahagiaan Dalam Beribadah
Amalan Puasa Daud
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Puasa Daud Untuk Meraih Berbagai Tujuan Hidup
Puasa Daud adalah salah satu ibadah sunnah yang utama yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Puasa Daud merupakan salah satu bentuk taqarrub (pendekatan) seorang hamba kepada Tuhannya. Jika kita menginginkan kemuliaan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta tercapainya berbagai tujuan baik hendaknya kita berupaya mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Karena dengan dekatnya seseorang kepada Allah maka ia akan mendapatkan ridha-Nya. Jika Allah ridha maka apapun yang diharapkannya insya Allah akan tercapai. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Swt berfirman:

“…dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai ketimbang sesuatu yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Bila ia meminta kepada-Ku maka Aku kabulkan, dan jika ia meminta perlindungan-Ku maka Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Semoga kita termasuk orang yang dekat dengan Allah Swt dengan sebab melaksanakan sunnah yang dianjurkan kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw. Dengan mengikhlaskan niat kita hanya mengharap ridha Allah dalam melakukan puas Daud ini.

Paling penting untuk dicatat adalah, bahwa kita melakukan ibadah, termasuk dalam hal ini puasa Daud hanyalah untuk mengharap pahala dari Allah, bukan hanya mendapatkan hikmah, manfaat, atau keajaiban dari ibadah tersebut. Jika kita mengikhlaskan niat kita dalam beribadah hanya karena Allah Swt, pasti Dia akan memberikan apapun yang kita inginkan. Tapi jika sebaliknya yang kita harapkan dari ibadah itu hanyalah hal-hal yang bersifat duniawi saja maka kita hanya mungkin mendapat yang kita inginkan itu, sementara di akhirat tidak mendapat apa-apa. Mengenai hal ini Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari perbanyak beribadah. Dan ikhlaskan ibadah kita hanya karena Allah saja. Itu sudah cukup bagi kita dibanding dengan dunia dan seisinya. Karena keridhaan Allah lebih berharga dari semua itu. Wallahul Haadi ilaa aqwamith thariiq.